Logika Berfikir Para Salik Dalam Menjaga Waktu: Al-Hikam Pasal 18

Logo Resmi Kampus Mudarosah
Posted By : |
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Mudarosah Al-Hikam Hikmah Pasal 18 

Masih menjelaskan perihal Adabu Sulukil Murid (Adab-Adab Suluk). Yang mana pada pasal 18 ini dan pasal sebelumnya (Hikmah Al-Hikam Pasal 17) berkaitan dengan pembahasan tentang logika-logika Su'ul Adab (logika-logika bodoh) yang bagi seorang Murid Suluk itu tidak seharusnya berlogika begitu. 

Juga untuk latihan terutama bagi para Mubtadi' atau Pemula (orang yang lagi memulai laku suluk) yang seringkali masih terjebak dan terdikte oleh logika-logika kebiasaan nafsu. 

✓ Teks Arab Al-Hikam Pasal 18 

إِحالَتُكَ الأَعْمالَ عَلَى وٌجودِ الفَراغِ مِنْ رُعُوناتِ النَفْسِ 

✓ Bacaan Al-Hikam Pasal 18 

"Ihalatuka al-'amaala 'ala wujudil faraghi min ru'unatin nafsi" 

✓ Terjemah Al-Hikam Pasal 18 

"Melewatkan (meninggalkan) suatu amal kebaikan begitu saja saat ketika ada kesempatan mengamalkannya (mengerjakannya) itu termasuk kesalahan cara berfikir (ketololan)".

✓ Kamus Kata Al-Hikam Pasal 18 

Tips Manajemen Waktu Bagi Para Salik: Al-Hikam Pasal 18
Tips Menjaga Waktu: Al-Hikam Pasal 18 

✓✓ Ihalatuka 

- Ihalah (masdar dari fi'il madhi ahalla pake tasydid) itu secara bahasa bisa berarti ngeculake, melepaskan, menunda-nunda hinga terlewat, melewatkan, membiarkan, meninggalkan, membebaskan, memecat. Pada kontek pasal ini adalah membiarkan suatu (kesempatan) berlalu begitu saja. 

- Ihalah itu lebih dari sekedar menunda-nunda, namun lebih cenderung pada membiarkan-melewatkan begitu saja. Semisal contoh saat ketika seorang itu kaya-mampu-ada kesempatan untuk infaq, namun ia malah (berlogika-berkesimpulan) ngomong "gak infak ya gak masalah, gak dosa. Misal mau infaq, nanti-nanti kan juga bisa-masih ada waktu". Kira-kira begitu.

✓✓ Al-'Amaal 

- Pada kontek pasal ini adalah amal-amal kebaikan. Entah itu amal kebaikan yang berupa kebaikan kepada sesama, maupun amal-amal peribadatan. 

✓✓ 'Ala Wujudil Faragh 

- Saat ketika ada kesempatan (beramal). Entah kesempatan waktu luang karna ketepatan tidak sibuk, entah kesempatan ketika masih sehat, ketika masih kaya, ketika masih muda, termasuk kesempatan masih hidup. Ini konteknya seperti penjelasan pada Pasal sebelumnya (pasal 17). 

- Yang intinya "Wujudil Faragh" itu adalah saat ketika mampu secara kekuatan dan bisa secara ada kesempatan. Seperti semisal contoh.."kakimu sehat, bisa jalan, waktunya berjalan, ada perintah untuk jalan, ada kesempatan berjalan, koq gak jalan, berarti kamu "Kumprung/Tolol".

✓✓ Min Ru'unatin Nafsi 

✓  Ru'unah : Kalo anak pondok maknani itu "kumprung". Kumprung itu kesalahan logika berfikir atau kesimpulan yang kacau. Seharusnya begini kok begitu, seharusnya begitu kok begini, Tolol. Kumprung itu sebagian dari Ahmaq/Humqun/Tolol. Baca ulasan selengkapnya tentang Ahmaq dalam artikel "Definisi Jahil Dan Jenis-Jenisnya Menurut Ulama Tasawuf". 

✓ Ru'unatin Nafsi dalam kontek pasal ini adalah kesalahan logika berfikir, berkesimpulan, dalam mengambil keputusan atau mengambil tindakan yang tidak sesuai dengan yang seharusnya dilakukan oleh orang waras-berakal (seorang Salik). 

✓ Ru'unatin Nafsi atau kesalahan logika berfikir atau kesimpulan yang kacau ini bisa jadi pembeda antara seorang Murid yang sungguh-sungguh (jujur bener-bener ingin bertasawuf) atau tidak.

Qultu : Semestinya, seorang murid itu sifatnya selalu menyegerakan taubat, mukholafah menentang hawa nafsunya, selalu berpegang adab pada gurunya, taat pada pembimbingnya, ikhlas lahir bathin, tidak ada hasad pada sesamanya, mengutamakan (kemanfaatan) yang lain yang lebih jauh daripada kepentingan dirinya (nafsunya). 

✓ Yang intinya, sifat seorang murid yang jujur itu selalu berlawanan dengan kepentingan dan kebiasaan-kebiasaan nafsunya yang jelek (nafsu amarah). Maka apabila ada seorang Murid koq kelakuannya (cara logika berfikirnya, cara ia berkesimpulan, atau cara ia mengambil keputusan dan bertindak) itu tidak sesuai dengan kriteria Murid Shodiq, maka berarti murid itu belum jujur dalam laku tasawufnya. Maka ia wajib memperbanyak riyadhoh dan bermujahadah lagi untuk itu. 

Perlu diketahui : Bahwa Ru'unatin Nafsi (kesalahan logika berfikir) ini sering dialami oleh Para Mubtadi' atau Pemula yang baru memulai laku suluk, karna ia masih sering terdikte disetir atau tersetir oleh hawa nafsunya. Namun bagi para Salik senior (yang sudah punya Maqam dan Ahwal Kerohanian yang stabil) yang sudah piawai dalam mendidik nafsunya, maka Ru'unatin Nafsi itu sudah bisa ia atasi. Latihane wis suwe. 

- Para Mubtadi' atau Pemula itu biasanya masih cari-cari alternatif mujahadah yang enak-enak. Alternatif Mujahadah yang sekira ia juga dapat income, profit, atau reward (kembalian) dari Mujahadahnya itu (hadhun nafsi) "Aku dapat apa dari rutinitas kebaikanku saat ini". Sedang para senior (Salik) itu sudah gak ngurus pada hal-hal receh semacam itu. Disarikan dari Mu'jam Alfadzi Shufiyyah, Karya Dr. Hasan Asy-Syarqowi, Hal 154. 

Penjelasan Al-Hikam Pasal 18 

Berangkat dari Firman Alloh : 

يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ 
"Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh". Q.S Ali-Imran (3) ayat 114. 

إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًۭا وَرَهَبًۭا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ 
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami". Q.S Al-Anbiya (21) ayat 90. 

أُو۟لَـٰٓئِكَ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَهُمْ لَهَا سَـٰبِقُونَ
"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. Q.S Al-Mu'minun (23) ayat 61. 

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ ؛ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب 
"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Q.S Al-Insyirah (94) ayat 7 - 8. 

Qultu : Maka apabila kamu sudah selesai dari suatu urusan, maka tegaklah (sholatlah atau kerjakanlah amal kebaikan/peribadatan lain). Dan hendaknya hanya kepada Allohlah semua kecintaanmu itu kamu tujukan (semua peribadatan itu hendaknya lillah). 

Qoola Syaikhinaa : "Orang cerdas yaitu...
  1. Bila ia dihadapkan dengan pilihan baik dan buruk, ia akan memilih yang baik. 
  2. Bila ia dihadapkan dengan pilihan yang baik baik baik, maka ia akan memilih yang terbaik. 
  3. Bila ia dihadapkan dengan pilihan yang terbaik-yang terbaik-yang terbaik, maka ia akan memilih mana yang harus didulukan dan mana yang harus diakhirkan. 
  4. Bila ia dihadapkan dengan pilihan sama-sama harus didulukan, maka ia akan memilih "andai saat itu ia mati, ia dapat reward atau bagian apa saat sesudah mati (di Akhiratnya)".  
Al-Hasil, orang cerdas yaitu orang yang saat ketika mengambil keputusan, melangkah, dan bertindak, kalkulasi reward akhirat itu sudah sekalian dihitungnya. Kalkulasi itung-itungannya itu jaohh sampai Akhirat. 

Pokok Pembahasan Al-Hikam Pasal 18

- Saat ketika seorang Salik itu punya rutinitas aktivitas atau kesibukan-kesibukan akan hal Maisyah Duniawinya, dan ia tersibukkan oleh rutinitas itu, namun saat ketika waktunya longgar, ketepatan sedang tidak sibuk, dan ada kesempatan beramal, koq ia melewatkan dan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja tanpa ada isi amal kebaikan di dalamnya, dan ia berkata... "Nanti kalo sudah selesai semua, aku akan beramal". Logika berfikir, kesimpulan, dan pengambilan keputusan begitu itu adalah sebuah bentuk Ketololan. 

- Ada 3 alasan paling mendasar kenapa logika menunda-nunda kebaikan atau bahkan ia melewatkan begitu saja saat ketika ada kesempatan berbuat kebaikan (entah kebaikan-kebaikan syari'at atau hak-hak kehambaan). Disarikan dari Mawahib Ghaitsul Aliyyah Syarah Al-Hikam Ibnu Abbad, Hal 234. Di antaranya : 

1. Mementingkan, mengutamakan, mengedepankan Duniawi-mengesampingkan akhirat. Ini bukan kelakuan Para Salik (mukmin) yang cerdas. Seperti firman Alloh :
وَءَاثَرَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا
"Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia". Q.S An-Nazi'at (79) ayat 38. 
بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا ؛ وَٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌۭ وَأَبْقَىٰٓ 
"Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal".  Q.S Al-A'la (87) ayat 16-17. 

Lihat ayat berikut : 

Tips Manajemen Waktu Bagi Para Salik: Al-Hikam Pasal 18
Mementingkan Duniawi - Kesalahan Logika Berfikir
2. Kesempatan tidak datang 2 kali. Waktu terus berjalan dan seseorang pasti menghadapi berbagai kemungkinan yang tak terduga di waktu berikutnya. Entah tidak datang kesempatan lagi, entah malah semakin sibuk, atau malah kuduluan mati. Karna kesibukan Dunia itu saling tarik-menarik. 

3. Andai datang kesempatan, azam dan keniatannya sudah melemah atau sudah tidak bulat lagi. 
Pas pingin, gak ada kesempatan.
Pas ada kesempatan, sudah gak pingin.
Andai ada datang kesempatan lagi dan ia bisa beramal, seringkali seseorang itu muncul pengakuan-pengakuan "merasa mampu dan bisa atas kemampuan dan merekayasa tuntutan Alloh dalam amalnya (merekayasa waktu)" Alias tidak lagi merasa atas kesempatan yang diberikan Alloh (haulillahi wa quwwatihi). 

- Ada alasan lain yang disebutkan oleh Syaikh Zaruq perihal kenapa kesalahan dalam logika berfikir seperti itu dikatakan "Ru'unatin Nafsi" : Disarikan dari At-Thurar wal Hawasyi Syaikh Zaruq Al-Fasi, Hal 50 

1. Mensia-siakan haknya waktu. Karna dalam setiap waktu itu ada haknya Alloh (hak-hak kehambaan, hak yang harus dilakukan seorang hamba dalam setiap waktu). Ini ada kesempatan koq gak digunakan = mensia-siakan haknya waktu. 

2. Memilih mementingkan dan mengutamakan Dunia daripada Akhirat. Baca ulasan selengkapnya tentang logika-logika Dunia dalam kategori Bab Teori Dan Hakikat Dunia Menurut Para Ahli Tasawuf. 

إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ يُحِبُّونَ ٱلْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَآءَهُمْ يَوْمًۭا ثَقِيلًۭا
"Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yg berat (akhirat)". Q.S Al-Insan (76) ayat 27. 

مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًۭا مَّدْحُورًۭا
"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir". Q.S Al-Isra (17) ayat 18. 

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلْـَٔاخِرَةِ نَزِدْ لَهُۥ فِى حَرْثِهِۦ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
"Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat". Q.S Asy-Syura (42) ayat 20. 

3. Percaya pada kemampuan dirinya. Tidak lagi tsiqoh percaya pada Alloh. Ya karna dengan ia menunda-nunda amaliah saat ada kesempatan, berarti ia sudah berani mematok bahwa akan ada lagi kesempatan kedua. Sialnya, andai kesempatan kedua itu memang datang, ia sudah gak pingin lagi. Azam, ghirah, dan keniatannya sudah melemah, sudah gak bulat lagi. 

Kesimpulan Mudarosah 

فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ 
"Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". Q.S Al-Baqarah (2) ayat 148. 

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًۭا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ 
"Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya padamu apa yg tlah kamu perselisihkan itu". Q.S Al-Ma'idah (5) ayat 48. 

Qultu : Intinya logika dan cara berfikir Para Salik itu dilatih untuk selalu mengutamakan dan mengedepankan "kebaikan apa yang harus dilakukan saat itu-waktu itu", maka ia harus bersegera dan tidak menunda-nunda. 

Bagi orang yang berakal waras (entah seorang salik maupun yang tidak), mestinya secara nurani cara berfikir dan logikanya itu kan memilih, mengutamakan, dan mengedepankan kebaikan, kemanfaatan, kemashlahatan, kerukunan, persatuan, kebersamaan, pingin cepet-cepet dapat yang terbaik. gitu kan ya seharusnya.

Buktine? Hawong kamu kalo beli sesuatu terus dikasih yang buruk atau gak sesuai itu aja menolak-emmoh-ngamok. Lah koq ini ada orang logika mikirnya malah kemaksiatan, menyakiti, nenipu, merampas, kedzoliman mengadu-domba, suka rusuh, suka gak tertib, terlebih malah berbuat sesuatu yang madhorot untuk dirinya sendiri, dan itu malah direncanakan dan difasilitasi biar madhorotnya cepat terealisasi. Itu kan logika tolol. 

وَتَرَىٰ كَثِيرًۭا مِّنْهُمْ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ وَأَكْلِهِمُ ٱلسُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu". Q.S Al-Ma'idah (5) ayat 62.

Maka bagi para Murid Salik, sudah seharusnya dan sudah semestinya untuk bersegera dan tidak menunda-nunda lagi dalam mengerjakan kebaikan saat ada kesempatan (menurut kemampuannya dalam kondisi posisi dan situasi yang di alaminya saat itu). Alias menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin agar waktu atau kesempatannya itu terisi dengan amal kebaikan, entah apapun itu, terlebih dengan amaliah-amaliah wajib). 

- Hendaknya juga seorang Salik agar cepat-cepat dan bersegera menggunakan kesempatan yang ada sebelum kematian yang bisa datang secara tiba-tiba. Dan juga berserah pada Alloh semoga selalu ditolong, dibantu, dan dimudahkan dalam mengerjakan kebaikan tsb, serta meminta bantuan agar penghalang-penghalang dari kemampuan beramal itu dijauhkan. 

- Bab Manajemen Waktu ini nanti akan ada banyak lagi analogi dan penjelasannya dalam pasal-pasal berikutnya. Baca ulasan selengkapnya dalam kategori "Bab Menjaga Waktu". 

•• ========== •• 
Wallohu A'lam Bishawabih
~ Intaha, Ulasan Admin Mudarosah. 

Artikel Terkait

Mudarosah Interaktif

Share Vote Comments And Other

Author Catatan Mudarosah.

Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Logika Berfikir Para Salik Dalam Menjaga Waktu: Al-Hikam Pasal 18 ], Semoga bermanfaat.

Save as FAVORIT Bagikan Artikel

Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com

Vote
Post Location :
Kec. Lawe Sumur, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia

Bab Dan Fasal

Komentar

Kirim Email
Buka Disqus

Komentar

Kebijakan berkomentar.